Monitor Ekspres
Berita umum Daerah Tulang Bawang Barat

Destinasi Wisata, Budaya dan Kearifan Lokal Prioritas Menuju Tubaba

PANARAGAN (monitorekspres.com) ~ Pengembangan seni budaya, kearifan lokal dan pariwisata menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat untuk menuju masa depan. Kini Tubaba bukan lagi sekedar singkatan dari Tulangbawang Barat. Namun, Tubaba adalah sebuah masa depan yang ingin dituju oleh Kabupaten Tulangbawang Barat.

Penegasan itu disampaikan Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Mansyur Yusuf saat jumpa pers UKW di Wisma Asri Tirta Makmur, Selasa (05/07/2022)

Sebagai informasi, Tubaba adalah singkatan dari Tulang Bawang Barat, kabupaten yang memisahkan diri dari Kabupaten Tulang Bawang 13 Tahun yang Lalu.

Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) berada di sebelah utara Provinsi Lampung, yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan dan juga berbatasan dengan empat kabupaten yang ada di provinsi Lampung, yaitu Kabupaten Way kanan, Lampung Utara, Tulang Bawang dan Kabupaten Lampung Tengah.

Mansur mengungkapkan pengembangan seni budaya dan pariwisata menjadi prioritas Pemkab Tubaba untuk menuju masa depan.
Menurut Mansur, Tubaba sendiri mempunyai filosofi, Sederhana, Setara dan Lestari serta Nemen, Nedes dan Nerimo (Nenemo), yang mengandung arti Nemen adalah berkerja keras, Nedes adalah tahan banting dan Nerimo adalah berkerja dengan keikhlasan.

“Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad, telah menerbitkan Peraturan Bupati Tulangbawang Barat Nomor 7 tahun 2019 tentang program Tulangbawang Barat seni dan budaya berbentuk kegiatan pendidikan dan pelatihan seni kepada peserta didik yang dilakukan selama jangka waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan,” katanya, mewakili Pemkab Tubaba.

“Terkait dengan pengembangan seni budaya Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat melalui Dinas Porapar akan terus berinovasi dan menggali seni budaya baru, tentunya berkolaborasi dengan seni budaya yang sudah ada di Tubaba,” tambahnya.

Pemkab Tubaba sejak tahun 2015 telah membangun salah satu icon wisata Tugu Naga Bersanding (Tugu Rato). Ide itu di gagas oleh Bupati Umar Ahmad dan Wakil Bupati setempat Fauzi Hasan.

Tugu Rato tersebut terletak di Kelurahan Panaragan jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah yang berbatasan dengan Tiyuh/Desa Kagungan Ratu Kecamatan Tulangbawang Udik, kabupaten setempat.

“Tugu Rato itu adalah sebuah patung kereta kencana yang di atasnya ada sepasang pengantin dan ditarik oleh dua ekor naga, mempunyai filosofi, keinginan Tubaba melambungkan cita-cita menuju masa depan dan menggambarkan adat istiadat Lampung MegowPak Tulangbawang dalam melakukan begawi (acara) adat Lampung untuk mendapatkan gelar adat tertinggi atau nama baru dalam adat Lampung Tulangbawang,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya Kadis, pada tahun 2016 dilanjutkan dengan pembangunan tempat wisata yaitu Masjid  Baitus Shobur atau yang dikenal dengan Islamic Center dan Tugu Relief Empat Marga.

Masjid Islamic Center terletak di jalan protokol yang tidak jauh dari Tugu Naga Rato di Kelurahan Panaragan jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah.

Disamping kanan Masjid Baitus Shobur juga ada bangunan yang unik terbuat dari 80 persen kayu adalah Sessat Agung (rumah adat) tempat musyawarahnya para tokoh adat lampung megowpak(Marga Empat) Tulangbawang.

“Islamic Center Tubaba adalah masjid yang tanpa kubah. Bangunan satu lantai dengan tinggi mencapai 30 meter. Dindingnya tidak mencapai dasar, terbuka dan dikelilingi oleh air sehingga udara di dalam masjid tersebut sejuk. Islamic Center kita di luar daerah terkenal dengan masjid apung,” cetus Mansyur Yusuf.

Islamic Center juga di kenal dengan kompleks Dunia Akhirat yang menggambarkan dua bangunan Sessat Agung ( rumah adat) dan Masjid Baitus Shobur. Mengandung arti Rumah Adat adalah urusan dunia dan Masjid adalah urusan akhirat.

Sementara destinasi wisata patung relief Empat Marga terletak di wilayah Tiyuh/Desa Panaragan, Kecamatan Tulangbawang Tengah yang tidak jauh dari kompleks kantor pemerintah daerah.

Patung relief Empat Marga tersebut menggambarkan empat wajah nenek moyang asli orang pribumi Tulangbawang.

“Marga Tegamoan, Marga Buay Bulan, Marga Buay Aji dan Marga Suwai Umpu,” terang Mansyur.

Selain dari itu, ada juga tempat wisata lainya seperti di Tiyuh Karta Kecamatan Tulangbawang Udik yaitu Taman Seribu Batu (Las Sengok).

Las Sengok artinya hutan larangan. Tempat wisata di bangun pada tahun 2019 itu berada di bantaran sungai Waykiri yang dihiasi dengan ornamen batu-batu dengan formasi batu berbentuk bintang Orion.

Batu yang tersusun di Las Sengok tersebut berasal dari vulkanik letusan Gunung Krakatau.

“Susunan batu berbentuk bintang Orion merupakan taman megalitik atau purbakala,” ceritanya.

Pada tahun 2019 juga, Pemkab Tubaba membangun tempat wisata Uluan Nughik, yang terletak di wilayah Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah.

Uluan Nughik adalah bahasa Lampung Tulangbawang yang artinya Uluan (awal) Nughik (hidup) yang mengandung arti awal kehidupan.

“Komplek Uluan Nughik menjadi salah satu pusat penerapan konsep pembangunan yang bernuansa budaya berbasis ekologis. Kawasan itu di kembangkan menjadi kota yang artistik namun, tetap mengedepankan keseimbangan dengan alam,” beber Kadis Porapar Mansyur Yusup.

Editor : Sayuti
Reporter : Yudhistira

Related posts

Pembangunan Sanitasi di SMPN I Pesawaran Bernilai Ratusan juta Banyak Kejanggalan

admin

Gubernur Lampung Setujui Novriwan Jaya, S.P Sebagai Pj. Sekdakab Tuba Barat

admin

Salsa Nabila Sausan dan Dika Hafiz’arsy Dinobatkan Sebagai Muli Mekhanai Kota Metro 2023

admin