Metro//Monitor ekspres.com — Selamat datang di episode terbaru: “Mencari Keringat di Balik Anggaran Sehat.”
Tahun 2026, Dinas Kesehatan Kota Metro menyiapkan anggaran pengadaan sekitar Rp310 miliar.
Angka yang kalau ditaruh di rekening rakyat biasa, bukan lagi saldo, tapi sudah masuk kategori “mimpi setelah makan terlalu kenyang.”
Tapi yang bikin publik garuk-garuk kepala bukan cuma jumlahnya. Yang menarik adalah sekitar Rp161 miliar di antaranya menggunakan skema swakelola.
Artinya, pemerintah mengerjakan sendiri. Kalau bahasa anak kos, ini seperti bilang: “Tenang, gue masak sendiri.” Masalahnya, yang dimasak bukan mi instan. Ini Rp161 miliar.
Swakelola Rp101 Miliar, Ini Rumah Sakit atau Grup Konglomerat? Dari seluruh paket yang ada, muncul satu bintang utama.
Namanya panjang dan gagah: Belanja Swakelola RSUD Jenderal Ahmad Yani. Nilainya? Rp101,44 miliar.
Warganet langsung bertanya: “Ini rumah sakit atau anak perusahaan BUMN?” Karena biasanya kalau lihat angka Rp101 miliar, yang terbayang bukan ruang IGD, tapi proyek ibu kota baru.
Yang lebih menarik, masyarakat cuma bisa melihat judul paketnya.
Rinciannya? Belum kelihatan. Jadi rakyat seperti nonton film detektif.
Tahu ada koper berisi uang. Tapi tidak tahu isinya uang pecahan berapa.
Obat Rp72 Miliar, Pasien Bisa Sembuh Sebelum Datang? Belanja obat dan BMHP juga tidak kalah seru. Ada paket: Rp28,4 miliar, Rp18 miliar, Rp15,8 miliar dan Rp10 miliar.
Totalnya lebih dari Rp72 miliar. Melihat angka itu, masyarakat berharap kalau masuk rumah sakit minimal disambut: “Selamat datang, Pak. Mau obat tablet, kapsul, sirup, atau langsung satu kontainer?”
Karena anggarannya sudah seperti distributor farmasi tingkat provinsi. Tentu kebutuhan obat memang penting. Tapi publik juga ingin tahu: Obatnya apa?Volumenya berapa? Perhitungannya bagaimana?
Karena kalau cuma lihat nominal, rasanya seperti lihat tagihan listrik tetangga yang pakai AC 24 jam.
Semua Jalan Menuju RSUD Ahmad Yani
Kalau ditelusuri lebih jauh, hampir semua paket besar ujung-ujungnya mengarah ke RSUD Ahmad Yani.
Ada: operasional, obat, alat kesehatan, hemodialisa, kebersihan,
makanan pasien, pemeliharaan gedung.
Pokoknya kalau anggaran ini serial Netflix, pemeran utamanya cuma satu: RSUD Ahmad Yani. Dinas lain mungkin dapat peran figuran.
Rakyat Tidak Menuduh, Tapi Bertanya Perlu ditegaskan, kemunculan angka-angka besar ini bukan berarti ada pelanggaran.
Belum tentu.
Tapi rakyat punya hak untuk bertanya. Karena uang yang digunakan juga uang rakyat.
Dan pengalaman mengajarkan satu hal:
Kalau anggaran sudah ratusan miliar, pengawasan tidak boleh cuma modal percaya. Kalau kata warga:
“Kami bukan curiga, Pak. Kami cuma takut nanti yang sehat anggarannya, bukan pelayanan kesehatannya.”
Jadi, dari data RUP 2026 ini kita belajar satu hal. Di Kota Metro ternyata ada dua hal yang harus selalu dijaga kesehatannya: Kesehatan masyarakat dan Kesehatan anggaran Rp310 miliar.
Karena kalau masyarakat yang sakit masih bisa berobat ke rumah sakit.
Tapi kalau anggaran yang sakit…
Biasanya yang dipanggil bukan dokter. Melainkan auditor.(LW)
