Metro//Monitor ekspres.com – Fenomena yang terjadi saat ini ramai disetiap daerah , terkait besaran anggaran MOU media dengan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi sorotan bagi penggiat media sosial baik melalui media online, cetak maupun televisi.Yang mana Kepala OPD ataupun Kasubag Dewan khususnya didinas Kominfo maupun DPRD memiliki kewenangan atas diterima ataukah tidaknya MOU terhadap media tersebut.
Selaku Kuasa pengguna Anggaran (KPA) maupun PPK, baik didinas Kominfo maupun DPRD memiliki hak sepenuhnya atas MOU terhadap media baik online, cetak maupun tv. Akan tetapi sering terjadi disetiap daerah adanya sifat atau cara yang dilakukan oleh Kuasa pengguna Anggaran tersebut, terkesan tebang pilih dan semau maunya untuk memilah ataupun memilih media yang akan mendapatkan MOU berupa advetorial. Sehingganya menjadikan kecemburuan sosial terhadap media yang tidak terkafer oleh pejabat pengguna Anggaran tersebut.
Hal ini menjadikan pemicu emosional dan tanda tanya ,”apakah yang membedakan antara media mereka dengan media yang dimilikinya, terkadang menjadikan suatu Boomerang bagi pejabat tersebut yang terkesan tebang pilih akibat dengan pemberitaan yang sifatnya mengkritik pemerintahan di daerah tersebut, sehingganya media tersebut tersisihkan,”. Dalam konteks pemberitaan itu hal yang wajar karena melalui mekanisme bertahap dan melalui hasil kordinasi ataupun konfirmasi.
Akan tetapi dengan adanya pemberitaan yang sifatnya mengkritik menjadikan media tersebut tidak terkafer untuk MOU disuatu dinas tersebut, padahal kalo dipikir anggaran yang digelontorkan oleh pemerintah daerah itu merupakan uang negara , bukannya uang pribadi miliknya yang dibagi bagikan tanpa konteks yang jelas. Melakukan penerapan kebijakan yang baik akan tetapi dilanggar dengan sendirinya, emosional yang tinggi dan penuh keangkuhan bahwa ,”Gw yang punya kuasa , terserah gw dong..mau Lo apa,”cetusnya dengan sikap yang gagah berani bagaikan Rahwana.
Disisi lain kebijakan merupakan jatidiri seseorang akan tetapi dikotori dengan dirinya sendiri, karena menganggap dirinya lebih hebat dan berkuasa, padahal ia tidak bercermin akan sebab akibat kesombongan dan keangkuhan tersebut, yang dapat menjerat lehernya sendiri.Karena belum tentu ia bersih dari segala hiruk pikuknya kehidupan dalam pemerintahan.Dan akan dengan sendirinya waktu bergulir merapihkan kesombongan dan keangkuhan atas kekuasan serta hak yang dimilikinya.Jeruji besi menanti , jagalah hati , jagalah diri apalagi dirimu hanya seorang manusia biasa yang akan tetap memiliki kesalahan.
Menghitung hari berganti , suatu waktu akan datang dengan sendirinya mukjizat dan azab bagi musuh manusia yang kikir dan sombong.Karena hidup hanya sekali janganlah kau merasa hebat karena masih ada yang lebih hebat dari dirimu semua karena melalui pikiran yang jernih dan akal sehat, sehingganya sesuatu hal tidak akan terjadi pada dirinya karena sangat rugi sekali menyingkirkan orang yang tak berguna , uang negara merupakan hak dan kewajiban masyarakat, bukan untuk dijadikan senjata kesombongan karena merasa berkuasa.
Tajuk Redaksi: Arwansyah
