Metro//Monitor ekspres.com – Terkait dengan pemberitaan bahwa pihak sekolah SMAN 2 Metro tidak memperbolehkan wartawan untuk mengambil dokumentasi kegiatan revitalisasi sekolah, melalui Wakahumas Cici menyampaikan bahwa itu semua tidak benar, karena dihari tersebut kepala sekolah beserta Wakahumas dan kepala sarpras sedang tidak berada disekolah dikarenakan ada kegiatan diluar daerah .
Hal tersebut telah dijelaskan oleh Cici selaku Wakahumas SMAN 2 Metro dan terkait untuk kegiatan revitalisasi sekolah SMAN 2 dengan beberapa pekerjaan rehabilitasi tersebut diantaranya beberapa ruang kelas diantaranya 5 ruang kelas, 1 toilet dan 1 ruang laboratorium fisika, yang terlihat dari pantauan media ini bahwa beberapa pekerjaan tersebut perbaikan atap serta plafon kelas dan beberapa jendela yang tidak layak pakai serta pengecoran dak atau atap toilet yang sudah tidak layak pakai lagi.

Melalui Kepala Bagian Sarpras SMAN 2, Dwi menyatakan bahwa rehabilitasi sekolah tersebut memang benar ada dan sedang terlaksana dengan nilai sebesar Rp.776.315.000 dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dikerjakan dari tanggal 19 Juli 2026 sampai dengan 19 November selama terhitung 120 hari kalendar.
” Iya memang benar bang kita ada rehabilitasi sekolah sebanyak 7 ruang kelas , diantaranya 5 ruang pembelajaran ,1 ruang laboratorium fisika dan 1 lagi toilet, yang mana closed dari toilet tersebut akan diganti semua dan untuk atap itu kita dak atau dicor agar lebih nyaman,” jelasnya Dwi kepada media ini.Senin (14/09/2026).
Lebih lanjut Dwi menambahkan bahwa, rehab tersebut termasuk rehab sedang bang karena terlihat yang lebih diutamakan plafon dan atap , karena diharuskan menggunakan atap baja ringan dan untuk jendela mana yang bisa diganti, itu harus kita ganti akan tetapi mana yang masih bisa kita gunakan akan kita pakai lagi, termasuk dengan pintu dan fentilasi udara ,” tutupnya Dwi.
Melihat dari besaran nilai revitalisasi tersebut, yang artinya bahwa SMAN 2 Metro memang wajib mendapatkan kegiatan revit tersebut dikarenakan terhitung dari jumlah siswa dan minimnya ruangan kelas yang sebagian sudah terlihat tidak layak pakai lagi.(Arwan)
